Buku kumpulan puisi ini saya beri judul Madah. KBBI mengartikannya sebagai “kata-kata pujian”, “memuji”, “mengucapkan syair”. Saya suka kata itu karena terdengar sederhana, tetapi, menyimpan kemungkinan makna yang luas. Setidaknya, bagi saya, pujian tidak selalu harus berupa sanjungan yang paripurna. Ia bisa saja berupa kekaguman dalam sunyi, syukur yang tidak perlu validasi di WA story, atau mengingat peristiwa kehidupan yang berarti, sependek usia manusia.
Dengan pengertian seperti itu, puisi-puisi dalam buku ini saya “niatkan” sebagai madah untuk berbagai hal: kepada kehidupan, manusia, perjumpaan, alam semesta, intrik politik, kenangan atau kehilangan. Ada luka, kegelisahan dan barangkali pertanyaan eksistensial. Mungkin saja, menulis puisi untuk banyak hal itu menjadi upaya agar sesuatu yang datang dan pergi, duka dan bahagia, tersimpan menjadi kenangan yang tidak lekas hilang.