Masyarakat Nusantara sudah menghirup semerbak aroma seduhan kopi sejak masa tanam paksa kopi di Preanger oleh VOC tahun 1720. Direbus dengan air atau menuangkan air panas ke bubuk kopi adalah cara paling mudah untuk menikmati kopi. Perkembangan teknologi, gaya dan budaya kemudian memperkenalkan sebuah sajian minuman kopi yang lebih beragam. Disajikan di sebuah ruangan berpendingin udara dan sofa empuk, dikenal dengan nama coffeeshop, cafe, atau kedai kopi modern. Aneka menu kopi pada kedai kopi modern merupakan sarana untuk membentuk citra sebuah makanan dan minuman. Menggunakan metode pembacaan simbol yang dikembangkan oleh teoretisi budaya Roland Barthes kemudian diperkuat dengan analisis budaya pascamodern dari Fredric Jameson, buku ini hadir untuk membongkar aneka rupa citra yang dibangun oleh ragam menu kedai kopi modern. Citra dibentuk untuk mengundang gairah konsumsi masyarakat yang berbanding lurus dengan pundi kapital para pemilik modal.