Dari Perut Ibu ke Punggung Kota berangkat dari ruang paling primordial yang kita miliki: tubuh ibu. Di sanalah manusia pertama kali hidup, sebelum kemudian keluar dan belajar bahwa dunia ternyata tidak seramah rahim. Tubuh perempuan menjadi awal penciptaan sekaligus medan panjang tempat masyarakat gemar menitipkan aturan, tuntutan, dan kesopanan yang sering kali hanya bekerja ke satu arah. Perempuan diminta kuat, lembut, setia, cantik, mengerti keadaan, mengurus rumah, dan—kalau bisa—tidak banyak mengeluh. Penderitaan pun perlahan dijadikan kewajaran, seolah-olah menjadi perempuan adalah bakat alami untuk menerima nasib.
Dari tubuh, puisi bergerak ke relasi: tempat cinta dipertukarkan, ego bernegosiasi, dan manusia menemukan bahwa mencintai orang lain kadang lebih mudah daripada memahami diri sendiri. Dari sana, ia sampai pada buruh dan pekerja yang harus menjual tenaga agar bisa membeli kembali hidupnya sendiri, berhadapan dengan struktur sosial-ekonomi yang keras dan pandai menyebut ketimpangan sebagai “keadaan”. Setelah tubuh, cinta, kerja, dan luka, puisi akhirnya tiba pada spiritualitas. Bukan untuk mengajari manusia bagaimana harus percaya, melainkan untuk melihat spiritualitas sebagai keberanian merawat harapan setelah hidup berkali-kali merampas apa yang dicintai. Iman tidak selalu hadir sebagai jawaban yang pasti, melainkan sebagai kesediaan untuk terus mencari makna ketika dunia terlalu sering memberi luka lalu menyuruhnya disebut takdir.