Di balik langkahnya yang pelan dan tangan yang mulai gemetar, seorang ibu menyimpan semesta cinta yang tak pernah ia ucapkan. Ia berjalan dalam diam, memikul lelah tanpa keluhan, menukar mimpinya dengan masa depan anaknya. Hari-harinya adalah doa yang tak putus, dan peluhnya adalah bahasa kasih yang tak selalu dimengerti dalam Kasih yang Tak Pernah Usai.
Anaknya tumbuh, berlari mengejar dunia, tanpa sempat menoleh pada sosok yang selalu menunggu di belakang. Hingga suatu hari, waktu memperlihatkan segalanya tentang tubuh yang mulai rapuh, tentang mata yang menyimpan rindu, dan tentang cinta yang hampir terlambat disadari.
Cerpen ini adalah tentang ibu tentang kasih yang tak meminta kembali, tentang pengorbanan yang sering luput dihargai, dan tentang penyesalan yang datang ketika pelukan itu tak lagi bisa diraih. Dari satu kata sederhana, “Ibu”, lahirlah cinta yang tak akan pernah benar-benar pergi, hanya tinggal dalam ingatan dan hati.